Kisah Nenek Saminem Hidup Sebatang Kara, Jadi Tukang Pijat Dibayar Rp1.000 Perak

Kala seseorang seharusnya menikmati hidup tenang dan berbahagia di usia senja, nenek satu ini justru mengalami sebaliknya. Perempuan lansia itu kerap dipanggil Mbah Saminem. Sehari-hari, ia menari nafkah dengan menjadi tukang pijat dengan bayaran Rp1.000 perak.
Dalam video yang diunggah di YouTube Cak Budi Official, ia membagikan kisah Mbah Saminem lewat video berdurasi 29 menit yang berjudul 'Nak, Pulanglah Ibu Kangen'. Dari video tersebut, terlihat Mbah Saminem hidup di sebuah rumah yang sangat sederhana.
Adapun nenek tua tersebut kemudian mengaku bekerja sebagai tukang pijat. Ia pun hanya mendapat bayaran sebesar Rp1.000 sekali pijat, meski bekerja keras hingga ke desa tetangga. Hanya saja, kini sudah semakin tua, Saminem pun memutuskan untuk pensiun.
"Kalau dikasih ya kadang-kadang seribu," jawab Mbah Saminem kepada pertanyaan dari Cak Budi.
Tidak satupun barang mewah tampak dimiliki Mbah Saminem. Perabotan di rumahnya terlihat sudah usang. Bahkan, nenek tua tersebut hanya tidur di atas tanah, beralaskan sebuah tikar.
Sementara untuk mengisi perut, Mbah Saminem hanya bisa menunggu belas kasihan dari para tetangga. Beruntung, nenek renta tersebut mengaku kerap dibantu tetangganya yang berada di seberang sungai, terutama kala mengalami kesulitan.
"Orang utara sungai itu," ungkap Mbah Saminem mengenai orang-orang yang kerap membantunya..
Sejalan dengan usia, kondisi fisik Mbah Saminem pun sudah menurun. Bahkan, kala ditanya mengenai umur oleh Cak Budi, Mbah Saminem kesulitan menjawab karena sudah tidak mengingatnya.
"Umurnya berapa mbah?," kata Cak Budi, yang kemudian dibalas: "aku tidak tahu," jelas Mbah Saminem.
Kini Mbah Saminem tinggal sebatang kara. Ia mengaku ketiga anaknya yang kini berada di Pare dan Tulungagung tak pernah berkunjung ke rumahnya. Sambil menangis, keinginan Saminem cuma satu, yakni anak cucunya pulang.
"Anak cucuku datangi aku. Tidak pernah dikunjungi aku," cerita Mbah Saminem kepada Cak Budi.
Video tersebut telah viral, ditonton hingga 171 ribu kali di dibagikan ke berbagai media sosial. Banyak warganet yang iba dengan kondisi Mbah Saminem. Adapun salah satu orang kemudian mengklarifikasi cerita Mbah Saminem.
Pria bernama Bayu Aji Anzah dengan akun Bayu AjiAnzah menyebut sejatinya anak dari Mbah Saminem belum lama sempat berkunjung. Namun, lantaran sudah pikun, Mbah Saminem dikatakan mudah melupakan sebuah kejadian.
“Mohon maaf, Mbah Eplok (Saminem) ini sudah pikun atau hilang ingatan,” kata Bayu.
Tak hanya itu, anak tertua Mbah Saminem, Untung, disebut sudah lama meninggal. Namun, Mbah Saminem tidak percaya. Bahkan, ia lupa bahwa putra sulungnya tersebut sudah meninggal.
Sebelumnya, Untung sempat mengajak Mbah Saminem tinggal di Tulungagung. Namun, tidak betah, Saminem pun kembali ke rumahnya, di Dukuh Plumpung, Desa Simo, RT 01 RW 02, Slahung, Ponorogo. Kejadian itu juga sudah tak ada dalam ingatan Mbah Saminem.
“Sampai hari ini, setiap hari dia hanya mengumpulkan batang ranting kayu sampai dalam dan luar rumahnya penuh, dulu sudah pernah dibersihkan tapi beliau tetap mencari batang kayu lagi sampai sekarang,” ujar Bayu.
Adapun orang dari utara sunga yang disebut Saminem kerap menolongnya tersebut ternyata adalah saudara dekatnya. “Yang merawat dan ngasih makan beliau setiap hari adalah saudara dekatnya,” ungkap Bayu.