3 Anak di NTT Ini Hidup Sebatang Kara di Kebun karena Ibu ODGJ dan Ayah Merantau

BAJAWA-Tiga bersaudara dengan usia sama-sama belia, bahkan ada masih balita, harus menjalani kerasnya kehidupan tanpa orang tua. Mereka hidup bersama dengan segala kekurangan dan jauh dari keramaian.
Kris (9), Yoan (7), dan Erto (4), mungkin tak seberuntung anak-anak seusianya.
Di saat anak-anak yang lain bisa menikmati hidup bersama keluarga tercinta, Kris dan adik-adiknya justru harus kehilangan kasih sayang orang tua.
Kris (9), Yoan (7), dan Erto (4), ditinggal ayah dan ibunya. Sang Ibu mengalami gangguan jiwa paska ditinggal suami pergi merantau ke kalimantan pada tahun 2017 yang lalu, sang Ibu juga tinggalkan mereka. Kini mereka, hidup dalam keprihatinan.
Adapun kakak tertuanya, Oktaf (12) sedang mencari nafkah sebagai sopir tidak tetap di Kota Bajawa, sedangkan yang bungsu baru umur 2 tahun dibawa ibunya.
"Pasca Ibu gangguan psikis dan Ayahnya merantau, kini Kris 9 tahun yang harus berperan sebagai "orang tua" dari kedua adiknya. Kris bersama dua adiknya tinggal sendiri di pondok di kebun milik ayahnya, ungkap Jeremias F. Bhodo, pemerhati masalah sosial di Ngada, Senin (24/8/2020).
Ia menuturkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Kris yang mencari uang. Dia setiap hari, sebagai buruh pemetik buah kopi di kebun warga. Upah yang diperoleh, dipergunakan untuk membeli beras bagi mereka bertiga.
Lanjut Jeremias, mereka ada 5 bersaudara, 1 yang bungsu baru berumur 2 tahun dibawa serta oleh ibunya yang gangguan jiwa. Sementara Kakak tertua Oktaf (12) mencari nafkah di kota Bajawa.
Sebelumnya, kelima bersaudara dan orang tuanya tinggal bersama dengan Neneknya di Kampung Woewali, Desa Were 1, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada.
Paska sang Ayah memilih merantau di Kalimantan pada tahun 2017, mereka juga masih bersama Ibunya tinggal di rumah nenek. Mereka mulai hidup sendirian, paska ibunya pada tahun 2018 keluar dari rumah Omanya dan tinggal di Were II karena ada gangguan jiwa.
"Disitulah Kakak tertua yakni Oktaf mulai meninggalkan mereka. Kurang lebih 1 tahun lebih, ketiga bersaudara itu masih tinggal bersama neneknya. Entah kenapa terjadi pada ketiganya, tepatnya di awal tahun 2020 mereka keluar dari rumah neneknya dan memilih tinggal di kebun milik sang Ayah. Lokasi tempat tinggal juga tidak layak pasalnya berada di dekat dengan jurang," ungkap pondok di kebun milik ayahnya, ungkap Jeremias F. Bhodo.
Sejak itulah mereka mulai berdikari dan mulai mengalami kesulitan dalam hidup. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kini Kris 9 tahun yang harus berperan sebagai "orang tua" dari kedua adiknya. Sedangkan kakak tertua lebih memilih tinggal dengan majikan di Bajawa.
"Untuk memenuhi kebutuhan Kris selalu pergi cari uang yakni dengan cara jadi tenaga petik kopi di kebun warga lain," ujarnya.
Putus Sekolah
Jeremias mengatakan pasca kedua orang tuanya masih bersama mereka Oktaf dan Kris pernah mengenyam pendidikan di SMPN Negeri 1 Golewa.
Hanya karena di tinggal kedua orang tuanya Oktaf dan Kris memutuskan untuk berhenti. Sementara ketiga bersaudara itu sama sekali tidak mengenyam pendidikan.
"Ketika saya tanya mereka mau sekolah, mereka punya keinginan untuk sekolah. Tapi mereka tidak bisa membayarnya," ujarnya.
Menurutnya, ketiga anak ini benar-benar membutuhkan bantuan dari berbagai pihak.
Dikatakan selama ini warga sekitar sudah membantu untuk membangun pondok agar mereka bisa tempati. Selain itu, bantuan juga diberikan secara langsung berupa pakaian, makanan. Namun itu, belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.