Demi Beli Kuota Internet untuk Mengikuti Belajar Daring di Masa Pandemi, Bocah 13 Tahun Rela Banting Tulang Berjualan Pempek

Sejak pandemi covid-19 berlangsung, nampaknya belajar daring menjadi satu aktivitas wajib bagi para pelajar.
Akibat hal tersebut, tak sedikit pelajar yang merasa terbebani dengan keterbatasan media ataupun biaya yang harus dikeluarkan.
Seperti yang dialami seorang bocah bernama Jonathan (13) ini misalnya.
Demi mengikuti pelajaran daring dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah di rumah, Jonathan mengaku cukup kesulitan dalam hal biaya.
Meskipun demikian, Jonathan tak gentar dan berpasrah begitu saja.
Kegigihan Jonathan dalam mengikuti pelajaran daring ini bahkan sangat patut untuk diacungi jempol.
Bagaimana tidak? Agar tidak tertinggal pelajaran, Jonathan rupanya harus banting tulang untuk sekedar membeli kuota.
Melansir dari Kompas.com pada Jumat (7/8/2020), bocah yang tinggal di Kampung Gedong, Kelurahan Talang, Lampung, itu terlihat gigih untuk menimba ilmu.
Berasal dari keluarga sederhana, ibu Jonathan diketahui bekerja sebagai buruh pengasuh dan buruh cuci.
Sementara sang ayah kini menjadi pengangguran setelah toko mebel yang didirikan gulung tikar dihajar pandemi.
Ya, kondisi bukan menjadi halangan, siswa kelas VII SMP 42 Bandar Lampung itu terlihat tetap bersemangat untuk mengejar ilmu.
Di depan teras, Jonathan terlihat serius mengerjakan soal-soal dan tugas sekolah yang dikirimkan melalui grup WhatsApp.
Namun, saat serius mengerjakan soal-soal tersebut Jonathan tak menyadari apabila kuotanya telah habis.
“Wah, kuotanya (internet) habis. Kirain tadi sudah selesai (belajar daring), pantes nggak ada soal-soal lagi yang masuk. Kayaknya masih sisa banyak (kuota internet). Kemarin baru diisi,” tutur Jonathan.
Saat handphone yang dibawanya tak lagi berdering, akhirnya Jonathan mulai menyadari untuk berganti peran.
Ya, Jonathan berganti pakaian dan mengambil masker untuk menjajakkan dagangan pempeknya.
“Mau jualan pempek dulu, Om, buat beli kuota,” jelas Jonathan.
Krisis ekonomi di masa pandemi, keluarga Jonathan hanya ditopang oleh oleh ibunya yang mendapat upah senilai Rp 300 ribu per bulan.
Untuk menyiasati penghasilan ibunya, Jonathan akhirnya berdagang pempek berkeliling kampung dan pasar di dekat rumahnya.
“Sekali ngambil biasanya 200 biji. Kalau laku semua dapat Rp 40 ribu. Itu buat beli kuota internet sama sisanya ditabung, saya mau beli HP sendiri,” imbuhnya.
Atas situasi yang tengah melanda Indonesia dan Dunia, Jonathan tak menampik apabila sistim belajar daring cukup menyusahkan.
Kendati demikian, Jonathan hanya bisa berharap agar pandemi covid-19 segera berakhir.
“Lebih enak belajar di sekolah, kalau kayak gini (belajar daring) susah, ngabisin uang juga buat beli kuota,” kata Jonathan.
Sementara itu melansir dari TribunJogja.com, pembelajaran daring tak hanya terkendala dari media dan kuota.
Namun kendala susah sinyal pun acap kali dirasakan oleh sebagian siswa dan orang tua di daerah Sleman, Yogyakarta.
“Kesulitan yang dialami mungkin karena rumah yang susah sinyal, jadi mau langsung respons kadang susah. Harus mencari sinyal dulu supaya lancar,” ujar Hartini wali murid dari Rengga siswa kelas 4 SDN Gayamharjo.
Meskipun demikian, guru dan wali kelas sangat memahami kondisi tersebut dan mengaku akan terus bersabar mendampingi kegiatan belajar mengajar di sana.