Kisah Gadis Cilik Disabilitas di Blora, Ditolak Banyak Sekolah karena Tak Bisa Jalan

Alenda Primavea Dewi (11), bocah yang tinggal di Kelurahan Bangkle RT 03 RW 01, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, ini tidak bisa melakukan aktivitas seperti teman seusianya lantaran kakinya cacat sejak lahir.
Vea sapaan akrabnya, setiap hari hanya bisa berbaring dan duduk di lantai yang berada di ruang tamu ditemani kucing peliharaan keluarga.
"Setiap hari ya di sini (di atas kasur). Kalau main ya sama kucingnya ini," ujar Adin Puji Utami, ibu kandung Vea, 
Adin menceritakan, anaknya dulu terlahir prematur saat kandungannya baru 6 bulan 2 minggu. Saat itu dia sudah diperingatkan oleh dokter rumah sakit, jika anak yang lahir prematur akan ada gangguan pada fisiknya. Yakni pada tulang atau pada mentalnya
"Vea ini tulangnya yang bermasalah. Untuk otak dan mentalnya alhamdulillah normal. Pikirannya seperti pada umumnya, dia pintar," ungkapnya.
Saat baru lahir, kata Adin, anaknya tersebut diinkubator selama dua minggu oleh pihak rumah sakit sebelum boleh dibawa pulang. Namun setelah Vea dibawa pulang dirinya justru malah jadi sakit-sakitan.
"Beberapa kali jadi sering masuk rumah sakit, kalau sekarang sudah tidak," katanya.
Proses pertumbuhan anak ketiga dari Adin ini tidak seperti anak pada umumnya. Umur 8 tahun, lanjut Adin, anaknya tersebut baru bisa mengangkat punggung dan bisa duduk. Dirinya juga belum lama dimasukan ke pendidikan nonformal taman kanak-kanak (TK) dengan menggunakan kursi roda bantuan dinas sosial.
"Jadi Vea baru masuk TK saat usianya 8 tahun. Pas sekolah saya yang mengantar sambil membawa kursi roda," ungkapnya.
Menurut Adin, anaknya selama proses pembelajaran di TK mudah menangkap pembelajaran yang ada. Vea diketahui lancar membaca, bisa menulis dan pandai berhitung.
Saat lulus dari TK pada usia 10 tahun, orangtuanya ingin menyekolahkan Vea dekat dengan tempat tinggalnya, namun ditolak secara halus sejumlah sekolahan dan disarankan agar di sekolahkan di SLB saja.
"Anak saya itu kan normal pemikirannya seperti anak pada umumnya, bisa baca tulis. Tapi hanya tidak bisa jalan," kata Adin.
Pada saat itu, Adin tidak putus asa. Agar anaknya bisa sekolah kemudian mendatangi ke sejumlah sekolahan. Hasilnya pun sama, semua sekolah menolak Vea hingga akhirnya pada 2019 lalu, anaknya tidak di sekolahkan. Begitupun tahun ini, Vea kembali tidak sekolah.
"Saya trauma, takut ditolak lagi. Satu tahun ini tidak sekolah dan di rumah saja tidak pernah kemana pun," kisahnya menceritakan kondisi Vea.
Adin mengaku, ingin fokus pada pengobatan anaknya bagaimanpun caranya agar bisa disembuhkan. Hatinya merasa teriris melihat anaknya hanya bisa terbaring, dan kalau pun ingin beraktifitas hanya keluar masuk kamar ke ruang tamu dengan merangkak.
Dia menyampaikan, dirinya pernah disarankan bidan agar ke terapi, yang memungkinkan kaki anaknya paling tidak bisa untuk berdiri. Saran tersebut hingga sekarang belum bisa dilakukan karena Adin mengira biayanya mahal.
Ayah Vea hanya bekerja sebagai buruh bangunan. Rumah yang ditempatinya saat ini hanya sebatas ngontrak, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pengobatan.
"Sudah 4 tahun ngontrak. Saya hanya berharap agar anak saya bisa sembuh dan pihak dermawan bisa membantu anak kami," katanya.
Sementara itu, Vea saat diajak berkomunikasi dengan Liputan6.com tampak lancar menjawabnya. Dia mengaku ingin sekali kakinya bisa digunakan untuk berjalan agar bisa bersekolah.
"Pengen bisa jalan, biar bisa sekolah," ujar Vea dengan wajah polosnya.