Kisah Pilu Gadis 17 Tahun Putus Sekolah Karena Tumor, Berawal dari Nekat Cabut Gigi


Rini telah mengidap Tumor Mandibula selama satu tahun terakhir. Benjolan sebesar kepala di kerongkongannya membuat Rini tidak bisa banyak berkomunikasi dan sulit berbicara.Rini pun hanya bisa berdiam diri di kediaman kedua orang tuanya di Jalan Ki Kemas Rindo, Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati Palembang.

Berawal dari Nekat Cabut Gigi Taring

Rudi paman Rini mengatakan, saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas 1 di Palembang, Rini nekat mencabut gigi taring bawahnya yang goyang dengan tangannya sendiri.
“Sejak dia berhasil mencabut gigi bawahnya, gusi Rini membengkak dan semakin membesar. Dia juga merasakan sakit yang luar biasa di bagian kerongkongannya setiap hari,” ucapnya pada Selasa (25/8).

Putus Sekolah dan Tak Bisa Beraktivitas

Karena kondisinya yang tidak memungkinkan beraktivitas di luar rumah, Rini terpaksa harus putus sekolah.

Tumor Mandibula membuat aktivitas sehari-hari Rini di rumahnya serba terbatas. Ia hanya melakukan ibadah, mandi, makan dan tidur saja karena rasa nyeri masih dirasakan Rini setiap harinya.

“Rini sulit kemana-mana, dia juga hanya bisa mengangguk atau menggeleng ketika diajak mengobrol. Kalau duduk saja tidak bisa berlama-lama, karena benjolan di kerongkongannya berat, jadi kebanyakan berbaring di kasur saja,” ujarnya

Kekurangan Biaya untuk Berobat

Anak ketiga pasangan Senen dan Fatmawati ini sudah melakukan pengobatan di berbagai rumah sakit. Namun hingga kini, tidak ada tindak lanjut lagi karena perekonomian keluarganya terbatas.

Hingga Rini dibawa ke salah satu rumah sakit besar di Kota Palembang sekitar tiga bulan lalu. Pihak rumah sakit menjanjikan akan menghubungi orangtua Rini untuk segera dioperasi.

“Dokter bilang Rini mengidap Tumor Mandibula, katanya akan menghubungi kami. Tapi sudah tiga bulan kami menunggu, pihak rumah belum kasih kabar ke kami,” katanya.

Tak Punya KIS

Kondisi diperparah karena Rini tidak mengantongi Kartu Indonesia Sehat (KIS) BPJS Kesehatan. Ayahnya Senen, hanya bekerja sebagai kuli bangunan. Sedangkan ibu Rini, beraktivitas sehari-hari sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT).

Kediamannya pun sangat sederhana. Rumah orang tua Rini dibangun semi permanen di atas lahan rawa-rawa yang berpotensi banjir jika musim hujan.