Potret Guru di Gorontalo Menyeberangi Sungai untuk Mengajar Siswa Secara Luring

Guru-guru berkemeja putih, melipat dan mengangkat roknya setinggi lutut. Pagi itu, mereka bersiap menyeberangi Sungai Bolango untuk mengajar di Dusun III, Desa Langge, Kecamatan Tapa, Bone Bolango, Gorontalo.
Dari wajah para guru ini, terlihat perasaan khawatir, meski aliran sungai pagi itu tidak begitu deras. Untuk memecah keraguan para guru, salah satu dari mereka lantas segera menyeberang. Tidak butuh waktu lama, ia mampu mencapai seberang sungai. Namun kemudian memutuskan kembali untuk membantu guru lainnya.
“Ini (airnya) tidak terlalu dalam. Arusnya juga tidak deras. Bisa, saling berpegangan saja,” katanya sambil mengulurkan tangannya untuk membantu para guru dan Kepala Sekolah SDN 6 Tapa, Bone Bolango, menyeberang.
Memang, tantangan yang cukup berisiko diemban oleh para guru di sekolah ini, dalam memberikan akses pendidikan kepada siswanya di dusun III desa tersebut. Sebab, dusun itu dipisahkan oleh Sungai Bolango yang cukup deras. Karena tak ada jembatan, maka pilihannya adalah menyebrangi sungai. Karena belajar daring (dalam jaringan) pun, rasanya tidak mungkin. Jaringan internet belum menjangkau dusun tersebut.
“Maka kami guru harus mendatangi anak-anak ke rumah mereka, walaupun harus menyebrangi sungai seperti tadi, dan melewati lumpur yang licin,” kata Yuniarti Utina, guru honorer yang sudah tujuh tahun mengajar di wilayah itu.
Kata Yuniarti, meski dalam keadaan terbatas, namun anak sekolah di dusun itu tetap antusias dalam mengikuti pembelajaran. Katanya, salah satu yang sangat menyulitkan mereka adalah jika kondisi hujan. Sebab, sungai yang harus mereka lewati pastinya akan berarus deras.
“Tapi biasanya juga kalau arusnya deras, itu orang tua siswa yang ke sekolah. Mereka yang ambil soal tugas atau pembelajaran di sekolah. Karena tidak mungkin kan anak-anak yang menyebrang sungai,” katanya.
Menimpali itu, Kepala Sekolah SDN 6 Tapa, Salma Rajak, mengatakan bahwa di tengah pandemi COVID-19, proses pembelajaran menjadi semakin sulit. Sebab, banyak orang tua siswa yang kemudian protes karena anaknya tidak bisa diajak belajar di rumah. Sehingga untuk menghadapi kondisi semacam itu, terpaksa mereka lagi yang mendatangi rumah siswa.
“Adakalanya orang tua itu datang ke sekolah. Mengadu bahwa anaknya tidak belajar. Jadi, guru turun ke rumah, dan kebetulan sudah membentuk kelompok untuk memantau siswa belajar dari rumah. Nah pada hari ini, kami memantau lagi kelompok belajar itu,” katanya.
Kata Salma, dari sejumlah kelompok belajar yang ia bentuk, hanya ada dua kelompok saja yang bisa belajar daring, sisanya belajar luring. Sebab sulitnya akses internet dan fasilitas penunjang lainnya.
“Orang tua di sini, di Desa Langge itu, kebanyakan tidak memiliki hp android. Kebanyakan itu kita lihat bersama, orang tua murid itu kurang memiliki fasilitas. Adapun dapat hp yang android, pulsanya tidak ada. Maksudnya tidak memiliki paket data,” curhat Salma. Senin, (10/8).
Maka dengan segala alasan tersebut, kata Salma, hal yang bisa dilakukan oleh guru-guru di sekolahnya adalah mengajari langsung siswa. Meski di tengah pandemi COVID-19 dan medan yang sulit untuk dilalui.