Viral Curhatan Wanita Ibunya Sakit Diabetes Malah Dipaksa Rumah Sakit Jadi Pasien Covid-19

Seorang wanita di Pasuruan, menuliskan curhatan di media sosial mengenai ibunya yang seolah dipaksa menjadi pasien Covid-19 setelah meninggal. Sang ibu meninggal di RSUD R. Soedarsono Kota Pasuruan.
Wanita dengan akun Facebook bernama Tea Ranich itu menjelaskan bahwa ibunya memiliki riwayat penyakit diabetes. Kala itu sang ibu tiba-tiba mengeluh panas demam.
Namun, kondisi ini menurut Rani sudah sering terjadi dan biasanya akan membaik dengan sendirinya. Tapi, karena hasil tes diabetes menunjukkan angka 500, Rani membawa ibunya ke klinik desa pada Selasa (28/7/2020).
Dia segan membawa ibunya ke rumah sakit besar karena pernah membaca berita mengenai jenazah yang dijemput paksa oleh warga.
Di klinik tersebut, Rani dianjurkan oleh dokter agar sang ibu diperiksa di laboratorium karena ada indikasi demam ibunya bersumber dari paru-paru.
Rani setuju dan ibunya diperiksa di laboratorium, namun hasilnya baru akan keluar pada Senin (3/8/2020). Dirawat di klinik selama beberapa hari, Rani meminta izin kepada dokter agar ibunya dirawat di rumah.
Meski belum sembuh total, Rani merasa kesehatan ibunya tidak terlalu membaik di klinik tersebut dan biaya juga makin membengkak. Dokter setuju dan pada Sabtu (1/8/2020), ibu Rani dibawa pulang ke rumah.
Namun, malam harinya sang ibu makin sesak dan sempat tidak sadarkan diri. Rani pun bergegas membawa ibunya ke sebuah rumah sakit untuk menjalani perawatan pada Minggu (2/8/2020) dini hari.
Di sana, Rani mengklaim ibunya hanya diberikan oksigen saja dan tidak ada tindakan lebih lanjut dari petugas medis. Alasannya karena rumah sakit itu kurang lengkap dan Rani disarankan ke rumah sakit yang lebih besar.
Rani akhirnya membawa ibunya untuk dirawat di RSUD R. Soedarsono. Namun, Rani heran kenapa ibunya langsung dibawa ke ruangan isolasi. Saat berkonsultasi dengan dokter, dokter mengatakan ada indikasi bahwa ibunya terpapar Covid-19.
Dokter pun meminta persetujuan Rani agar tim medis menangani ibunya secara protokol Covid-19 dan jika meninggal harus menjalani pemakaman sesuai protokol kesehatan juga.
"Cek dulu dok ibu sy diabet jangan panas dkit langsung ke covid cek lab dulu karena sy SDH cek lab hasil masih Senin kluar." tulis Rani yang menambahkan bahwa ibunya telah dites corona dan hasilnya non reaktif.
"Hasil tes nya belum kluar ko sudah harus di covidkan dulu sy mau liat hasilnya dulu baru setelah itu saya setuju jika dilakukan tindakan sesuai protokol covid tapi kalo ibu sy bukan terinveksi covid sy tidak setuju jika jenazah harus d tangani seperti covid" beber Rani.
Karena Rani menolak, dokter meminta Rani tidak membawa ibunya ke rumah sakit tersebut karena mereka tidak akan melakukan tindakan apa-apa.
Anehnya, kalaupun Rani setuju ditangani secara protokol Covid-19, pihak rumah sakit hanya memberi oksigen ke ibunya.
"Kalo hanya sekedar oksigen itu artinya tidak ada tindakan apa2 dr sini sama aj dengan membiarkan ibu sy meninggal." tulis Rani kesal.
Tak lama kemudian, dokter menginformasikan bahwa ibu Rani telah meninggal dunia. Informasi ini semakin membuat Rani bingung, kenapa sejak awal dokter memintanya tanda tangan surat persetujuan seolah ibunya akan diberikan penanganan.
"Kalo sudah meninggal kenapa tidak bilang dari tadi knp harus berpura2 masih akan melakukan tindakan pertolongan hanya demi sebuah tanda tangan kalo sy menyetujui jenazah terkena covid" tambah Rani.
Ketika pengambilan jenazah juga sempat terjadi perdebatan karena lagi-lagi Rani diminta menandatangani surat yang menyatakan ibunya terkena Covid-19 dan harus dimakamkan dengan protokol ketat.
Rani menolak karena hasil tes ibunya non reaktif dan tidak mau ibunya dimakamkan di TPU pemakaman para jenazah Covid-19.
Rani menegaskan bersedia menjalani protokol kesehatan saat pemakaman, tapi tak mau dipaksa mengakui ibunya terkena Covid-19.
Beruntung, ada kerabat yang mengurus izin pemakaman melalui Kapolsek Lumbang, sehingga akhirnya sang ibu bisa dimakamkan di Lumbang sesuai permintaannya semasa hidup.
"Ibu saya belum di tes swab. Namun sudah dinyatakan positif COVID-19. Akhirnya saya meminta untuk mengambil jenazah ibu saya dan dimakamkan sendiri. Yang memakamkan semua anggota keluarga, namun mengenakan alat pelindung diri (APD). Tidak ada tim medis yang ikut memakamkan," tuturnya.