VIRAL! Tak Punya Uang Bayar Ambulans Seorang Warga Batam Bawa Jasad Bayi Naik Motor

Seorang warga Batam mengaku terpaksa membawa jasad bayinya menggunakan sepeda motor dari rumah sakit.
Hal itu karena, dia mereka tak sanggup membayar biaya ambulans untuk membawa jasad sang bayi.
Peristiwa yang terekam video itu menjadi viral dan mengundang reaksi banyak orang.
Sekretaris Forum Nias Selatan Provinsi Kepri Sofumboro Laia, misalnya.
Dia mengaku sangat prihatin dengan kondisi tersebut dan mengaku kecewa dengan kebijakan pihak rumah sakit yang berlokasi di Batam Center tersebut.
"Sangat disayangkan sekali tindakan seperti itu. Seharusnya bisa difasilitasi dengan pakai ambulan. Padahal, sepengetahuan kami brand rumah sakit itu mengedepankan kasih. Tapi atas kejadian itu, kami belum melihat kasih yang digaungkan itu," ujar Sofumboro Laia, Minggu (2/8/2020).
Diketahui, jasad bayi perempuan itu keluar dari rumah sakit digendong oleh neneknya dan dibonceng oleh pamannya menggunakan sepeda motor.
Dari rumah sakit tersebut, mereka menuju Kaveling Punggur di rumah orangtua bayi.
Sofu menilai, tindakan rumah sakit tersebut tidak etis.
"Hemat kami tidak manusiawi. Andaikata meninggal karena Covid-19 siapa yang bertanggung jawab? Rumah sakit Elisabeth harus klarifikasi kejadian ini," kata dia.
Sementara itu, ketika dikonfirmasi kepada orangtua kandung bayi bernama Kalvianto Dachi membenarkan kejadian itu.
Kepada TRIBUNBATAM.id, video kejadian yang viral di media sosial WhatsApp grup itu terjadi 28 Juli 2020 pukul 03.00 WIB.
"Iya benar pak kejadian itu. Anak pertama saya berjenis kelamin perempuan meninggal dunia pas pada 27 Juli 2020 pukul 24.00 WIB. Karena tidak ada biaya, makanya jasad anak kami terpaksa digendong dan dibonceng pakai motor ke rumah," kata Kalvianto Minggu malam.
Ia menceritakan, bayi perempuannya itu lahir di sebuah klinik di Punggur 24 Juli 2020.
Saat itu, sang Ibu mengaku merasa sakit dan ada indikasi bayi lahir prematur.
Kemudian, oleh pihak klinik pasien dirujuk ke Rumah Sakit di Batam Center.
Namun bayi itu hanya tahan sekitar tiga hari lalu kemudian meninggal dunia tepatnya pada 27 Juli 2020 pukul 24.00 WIB.
"Saat itu, biaya rumah sakit Rp 9.965.000 tapi kami tidak punya uang tunai. Sehingga sejak jam dua belas malam itu sampai jam tiga subuh kami tertahan, karena faktor biaya. Lalu kerabat saya yang hadir menjaminkan STNK kendaraan, NPWP, dan KTP. Baru besoknya diurus BPJS Kesehatan untuk cover biaya itu. Karena memang tak ada uang, makanya nggak dikasih kami naik ambulan rumah sakit," beber Kalvianto.
Ketua Dewan Pakar Gerakan Angkatan Muda Nias Indonesia (GAMNIS) Kepri Tomas Yeferson Lature yang punya video, membenarkan juga kejadian.
Ia mengaku ikut mengurus dan memohon kepada pihak rumah sakit agar disediakan ambulance.
"Tapi tidak ada tanggapan. Pihak RS Sakit justru minta Rp 350.000 untuk uang ambulance sementara keluarga ini tak punya uang. Termasuk kami minta bantu pada ambulance DPC Himni Kota Batam tapi tak berhasil, katanya terkendala karena sudah larut malam dan tak ada sopir. Tapi itu tak usah kita urai. Yang kami sayangkan adalah, pelayanan rumah sakit. Coba kalau penyakit menular andai kata, yang bertanggung jawab siapa? Apa lagi ini musim Corona," ujar Tomas.
Sementara itu, ketika dikonfirmasi kepada pihak Rumah Sakit belum bersedia memberikan komentar.
Petugas Receptionis saat didatangi wartawan Tribun Batam guna konfirmasi belum bersedia.