Gorok Leher Driver Ojol Wanita hingga Nyaris Putus, Pelaku Diberi 'Kejutan' oleh Keluarga Korban

 


Seorang driver ojol wanita ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan.

Saat ditemukan, korban Fitri Yanti sudah tak bernyawa dengan kondisi leher nyaris putus.

Wanita yang kesehariannya berprofesi sebagai ojek online itu sempat berpamitan dan menitipkan pesan terakhir sebelum ditemukan meninggal dunia.

Saat ini, polisi telah mengamankan pelaku yang telah membunuh Fitri Yanti dengan cara terbilang sadis itu.

Tersangka kasus pembunuhan diketahui bernama Fery Pasaribu, pria berusia 49 tahun.

Rupanya, pelaku pembunuhan tak lain merupakan suami siri korban

Tersangka Fery berhasil ditangkap dari lokasi persembunyiannya.

“Tersangka ditangkap ketika sembunyi di rumah kerabatnya,” Kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Tatan Dirsan Atmaja.

Pelaku Ditendang

Kedatangan tersangka pembunuhan driver ojol wanita memang sudah ditunggu-tunggu oleh keluarga korban.

Tersangka Fery Pasaribu pun tiba di Mapolrestabes Medan, Kamis (24/9/2020).

Rupanya, kedatangan tersangka langsung disambut oleh keluarga korban.

Dikutip TribunnewsBogor.com dari Tribun Medan, pria yang merupakan suami siri korban Fitri Yanti ini dibawa dalam kondisi tangan diborgol dan mengenakan baju oranye tahanan.

Pihak keluarga korban yang melihat kedatangan pelaku di Mapolrestabes Medan langsung meluapkan amarahnya.

Pelaku pun langsung dikasih kejutan oleh pihak keluarga berupa tendangan perut yang mengarah Fery Pasaribu.

Pelaku yang terkejut mendapat serangan mendadak, langsung berlari menghindari amukan keluarga Fitri Yanti.

Keluarga korban juga melontarkan kata-kata kasar terhadap pelaku.

Melihat situasi tak kondusif, pihak kepolisian langsung membawa pelaku ke dalam ruangan.

Berharap Dihukum Mati

Anak pertama korban, Rani (23) berharap penegak hukum memberikan hukuman setimpal kepada pria yang telah membunuh ibu kandungnya, Fitri Yanti.

Rani pun tampak menangis terisak melihat wajah pelaku dan foto ibunya yang dipajang.

Rani yang mengenakan kerudung merah ini meminta agar pelaku dihukum mati.

Ia pun meminta semua yang terlibat dalam kejadian pembunuhan ibunya diproses.

"Kami ingin dihukum mati, saya juga ingin supaya keluarganya diproses, mereka membantu eksekusi mama. Pokoknya kami percaya bahwa keluarganya bantu, anak istri keluarga membantu eksekusi mama, semua sama. Eksekusi ini kami yakin tidak sendiri, dia mengaku sendiri, tapi kami merasa ada teman-temanya," ucapnya di lokasi.

Rani menyebutkan bahwa dirinya terakhir berhubungan dengan ibunya pada hari Jumat, satu hari sebelum kejadian.

Saat itu, Fitri Yanti memberikan pesan kepada Rani untuk menjaga adik-adiknya.

"Saya di Pekanbaru, pas hari Jumat saya video call, dia pengen buka kedai di Pajak Halat. Saya bilang nanti terjadi sesuatu, keluarga mereka ngajar mamak lagi. Katanya gak apa-apa, ini demi anak cucu. Di rumah, ada adek saya, nenek sama cucu. Tapi pas hari Sabtu itu kasih pesan jaga cucu, jaga nenek," ungkapnya.

Ia menyebutkan bahwa saat kejadian ibunya permisi untuk bertemu dengan orang.

"Dibilangnya sama adek disuruh cepat pulang supaya kerja hari Minggunya. Pas di hari Sabtu itu permisi mau jumpai kawannya," ungkapnya.

Pesan Terakhir Korban

Fitri Yanti, perempuan yang ditemukan warga tergeletak di semak belukar yang berlokasi di Jalan Mahoni Pasar II Tembung, Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percutseituan, Minggu (30/8/2020) lalu itu sempat menitipkan pesan terakhir.

Saat ditemukan, jasad wanita yang tinggal di Jalan Bromo, Gang Bahagia, Kecamatan Medan Denai ini dalam posisi telungkup diantara semak-semak.

Dilokasi kejadian, polisi juga menemukan barang bukti berupa gelang, cincin, dan sepasang sendal jepit.

Namun, ia belum membeberkan secara rinci terkait peristiwa tersebut.

Seperti diberitakan TribunnewsBogor.com sebelumnya dalam artikel berjudul Ini Pesan Terakhir Fitri Sebelum Mayatnya Ditemukan di Semak-semak: Jaga Anak-anak' Fitri Yanti (44) yang ditemukan tewas di Jalan Mahoni Pasar II Tembung, Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percutseituan, Minggu (30/8/2020) rupanya sempat menitipkan pesan sebelum mayatnya ditemukan oleh warga.

Perwakilan keluarga Fitri, Ramadius menceritakan jika korban sempat menitip pesan kepada anaknya.

Sebelum ditemukan meninggal, kata Ramadius, korban keluar dari rumah orangtuanya di Jalan Bromo Gg Bahagia sekitar pukul 21.00 WIB.

Saat itu, korban pergi seorang diri mengendarai sepeda motor jenis matic Sabtu (29/8/2020) malam.

Tak lama kemudian, anak korban menghubungi Fitri untuk menanyakan keberadaannya.

Panggilan seluler sang anak pun di jawab oleh korban.

Saat itu, korban menjawab jika dirinya sedang bersama temannya.

"Mamak di Tembung sama kawan. Jaga anak-anak (cucu korban)," kata Ramadius saat menirukan ucapan anak korban yang laki-laki saat berkomunikasi dengan ibunya.

Kemudian, sekitar pukul 22.00 WIB, korban masih komunikasi via telepon dengan anaknya.

“Bahkan korban berpesan kepada anaknya agar jaga anak-anak (cucu korban)," ungkapnya.

Namun, korban kemudian tidak bisa dihubungi sehingga membuat keluarga khawatir.

Pihak keluarga korban pun kemudian mencari keberadaan Fitri pada malam tersebut.

Namun, upaya yang dilakukan keluarga Fitri tak membuahkan hasil.

Keesokan harinya keluarga pun kaget mendapatkan kabar jika Fitri ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa.

"Malam itu keluarga terus mencari korban hingga akhirnya mendapat kabar bahwa korban ditemukan warga telah tewas di Pasar II, kawasan Tembung," katanya.