Kisah Mbah Riyem Hidup Sebatang Kara, 50 Tahun Jalan Kaki Berjualan Kerupuk

Usia mbah Riyem, warga Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, boleh tua. Tetapi semangat kerjanya tidak kalah dengan anak muda.
Di usianya 80 tahun, nenek ini saban hari menjajakan kerupuk lempeng khas Kota Madiun kepada pembeli.
Sambil menggendong keranjang berisi dagangan, Mbah Riyem berjalan kaki menyusuri jalanan di tengah terik panasnya matahari di Kota Madiun
Beberapa warga yang iba dengan perjuangan Mbah Riyem pun membeli kerupuk yang dijualnya.
Meski tubuhnya sudah renta dan bungkuk, semangat Mbah Riyem tak pernah padam menantang sinar matahari yang menyengat.
Setiap hari Mbah Riyem berjalan dua hingga tiga kilometer menawarkan kerupuk lempengnya yang disetor warga.
Ia bersyukur dari berjualan kerupuk lempeng bisa bertahan untuk hidup.
Sejak diceraikan suaminya sejak 1970, Mbah Riyem memilih hidup sendiri dengan berjualan kerupuk lempeng. Sudah 50 tahun lamanya Mbah Riyem berjualan kerupuk keliling di jalanan Kota Madiun.
Setiap berjualan, nenek ini hanya memakai caping untuk berlindung dari terik matahari. Sedangkan kakinya hanya beralaskan sandal jepit yang menipis.
Meski tertatih-tatih, Mbah Riyem tak berniat berhenti jualan kerupuk. Mbah Riyem sadar tak bisa bertahan hidup jika tak mencari nafkah.
Ia pun lebih memilih harus lelah setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup ketimbang menjadi seorang pengemis. Baginya berjualan kerupuk dengan hasil ala kadar lebih berkah ketimbang meminta-minta.
Kulo mboten nate nyuwun-nyuwun teng pundi-pundi (saya tidak pernah minta-minta kemana-mana). Kulo bersyukur diparingi kesehatan kaleh saget sadean (saya bersyukur diberi kesehatan dan bisa berjualan,” kata Riyem kepada Kompas.com, pekan lalu.
Selain berjualan kerupuk lempeng, Riyem bercerita dirinya pernah berjualan nasi pecel di kios. Namun penghasilannya tidak seperti berjualan kerupuk.
Sepekan kemudian, Mbah Riyem kembali berjualan kerupuk keliling

Hidup sendiri

Semenjak bercerai dari suaminya, Mbah Riyem memilih tidak menikah lagi. Ia tak memiliki anak dari suaminya itu.
Untuk bertahan hidup, Mbah Riyem tinggal di rumah sederhananya di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Winongo.
Sekitar 45 tahun lalu, rumah itu dibeli seharga Rp 150.000. Sejak saat itu, ia memilih hidup sendiri di rumah itu.
Kulo tumbas omah niku empun dangu (saya membeli rumah itu sudah lama),” kata Mbah Riyem.
Setiap hari, Mbah Riyem kulakan kerupuk lempeng dari seorang pengrajin Rp 200.000. Namun tak setiap hari jualannya habis dibeli orang.
Sebelum berjalan kaki menyusuri jalanan, Mbah Riyem menyempatkan diri menawarkan dagangannya di Pasar Winongo.
Setelah berjualan di pasar, ia berjalan kaki menjajakan dagangannya melewati empat jalan di Kota Madiun.
Biasanya, Mbah Riyem mengambil rute mulai dari Jalan Gajah Mada ke Jalan Prambanan.
Selanjutnya Mbah Riyem menyusuri Jalan Yos Sudarso hingga berhenti di Jalan Sematera.
Bila dihitung setiap hari, nenek itu menyusuri jalan sekitar dua hingga tiga kilometer.
Setelah selesai berjualan kerupuk lempeng, Mbah Riyem memilih pulang dengan naik becak.