Kisah Pilu Bocah di Jombang, Operasi Usus Besar setelah Alat Vital Tertendang Sepupu

Achmad Syawaludin Akbar, pelajar klas VI Sekolah Dasar asal Desa Cukir Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur ini, harus rela kehilangan hari-hari ceria sebagaimana anak seusianya.
Setiap hari, remaja yatim yang akrab disapa Ocim ini harus menghabiskan banyak waktunya di tempat tidur. Ini karena sejak enam bulan lalu, dia tak bisa buang hajat secara norman seperti orang pada umumnya.
Setiap setengah jam sekali, ibunya, Rodiyah (47), harus membersihkan kotoran dari lubang anus buatan di perut kirinya.
Menurut Rodiyah, derita Ocim diawali usai dia menjalani operasi usus besar pemindahan lubang anus, setelah mengalami pembengkakan alat vitalnya.
Kejadian ini dialami Ocim setengah tahun lalu. Saat itu, Ocim bermain dengan saudara sepupunya di rumahnya. Saat asyik bercanda itulah, secara tidak sengaja alat vital Ocim terkena tendangan saudara sepupunya itu. Ocim merasa kesakitan.
Satu minggu kemudian, pelajar SD IT Tebuireng itu mengalami demam tinggi dan muntah-muntah. Alat vitalnya pun mulai membengkak.
Oleh ibunya, Rodiyah (47), Ocim kemudian diperiksakan ke Puskesmas Cukir dan mendapat rujukan penanganan ke RSUD Jombang. Ketika itu, bengkak di alat vital putra keempatnya tersebut semakin besar.
Bahkan sebelum dioperasi, benjolan besar berisi nanah itu kemudian pecah.
“Setelah itu, anak saya menjalai beberapa kali operasi, di alat vitalnya dan operasi usus besar, sehingga dibuatkan lubang anus buatan itu. Lalu dipasang kantong filter, setiap setengah jam sekali harus dibersihkan,” terang Rodiyah, Selasa (8/9/2020).
Rodiyah menuturkan, anaknya dirawat di RSUD Jombang sekitar tiga minggu. Biaya yang dikeluarkan untuk operasi itu pun tak sedikit, mencapai Rp 75 juta.
Kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan membuat bebannya semakin berat. Terlebih satu tahun lalu, suaminya, Joko Bambang (57) meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami sakit keras.
Rodiyah yang tak memiliki pekerjaan tetap, harus menanggung kebutuhan ekonomi sehari-sehari keluarganya.
Untuk menyelamatkan nyawa putranya itu, Rodiyah berupaya mencari biaya pinjaman kepada saudaranya. Bahkan, saat itu, Rodiyah mengaku masih memiliki tanggungan biaya di rumah sakit sebesar Rp 12 juta.
Namun kekurangan biaya itu sudah lunas setelah dirinya memohon keringanan kepada pihak rumah sakit.