Kisah Dua Ibu Merawat Bayinya dari dalam Penjara

 


Hasil vonis pengadilan pada Bulan Mei 2018 silam, TS terbukti bersalah dalam kasus pembunuhan di Desa Wosu, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. TS divonis 20 tahun penjara pada sidang yang dilaksanakan di Kabupaten Poso sekitar 2 tahun lalu.

Kini TS mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan atau Lapas Perempuan Kelas III Palu di Kabupaten Sigi. Namun ada satu hal yang membuat perempuan kelahiran Sumatera ini lega, masa sembilan bulan mengandung yang dilaluinya di balik jeruji sudah dia lewati.

Bukan hal yang mudah bagi TS sebagai ibu yang sebenarnya mengharapkan kelahiran bayinya di rumah dan didampingi keluarga. Jeruji besi jadi saksi bisu kala TS bertaruh antara hidup dan mati saat akan melahirkan.

“Sekarang anakku usianya lima bulan,” kata TS.

TS mengaku bersalah dan menyesal. Seandainya dia tidak melakukan perbuatan jahat itu, yah mungkin dia akan merawat bayinya di rumah didampingi suami dan keluarga.

“Bedanya yah itu, kalau di rumah bisa dibantu keluarga dan lingkungannya lebih baik. Tapi yah sudah, dijalani saja,” kata TS.

Ia berencana akan menitip asuh putra bungsunya kepada anak pertamanya jika usianya dianggap sudah bisa diasuh oleh keluarganya.

“Vonis cukup lama jadi nanti saya titip sama anak saya yang kebetulan sudah berumah tangga tapi belum punya anak. Biarlah dia yang rawat adiknya,” ujarnya lirih.

Selain TS, ada juga WR yang punya nasib sama. Sudah 10 bulan WR merawat anaknya di Lapas Perempuan Palu. Mereka pun sekamar.

WR dijatuhi hukuman empat tahun penjara dan telah menjalaninya satu tahun. Kasusnya, tipikor di Kabupaten Parigi Mautong.

Sudah sembilan bulan ia merawat anaknya di balik jeruji besi. Perempuan 43 tahun ini berencana melanjutkan pengasuhan putranya kepada suaminya.

“Nanti suami yang lanjutkan asuh, saya jalani dulu sisa masa tahanan ini,” kata WR.

Rasa sedih sering melanda WR kala melihat anaknya harus tidur dan bermain di dalam La Puan Palu. Ia tak menginginkan anaknya berada cukup lama dan mengenal lingkungan kehidupan dalam jeruji besi.

“Kan batasnya 2 tahun tapi sebelum dua tahun saya akan minta suami rawat. Kasihan juga harus ada di sini,” ujar WR.

Beruntung, kedua anak warga binaan di La Puan Palu dapat dirawat dengan baik layaknya bayi yang berada di luar lapas. Kebutuhan mereka pun terpenuhi selama berada di dalam La Puan Palu.

“Kita sediakan susu formula dan kebutuhan lainnya,” kata Kepala Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Palu, Lyza Zastavary.

Selain kebutuhan susu formula, kebutuhan imunisasi dan pemeriksaan rutin di puskesmas juga diberikan oleh La Puan Palu terhadap kedua bayi itu.

“Ibunya juga kami bawa untuk pemeriksaan, awal-awal imunisasi ibunya ikut ke puskesmas, yah sekarang tidak dan hanya dibawa oleh petugas La Puan Palu,” ujarnya