Terbukti! Habib Rizieq Shihab akan Menjadi Tersangka Atas Pelanggaran Protokol Kesehatan di Bogor

 


Habib Rizieq Shihab Imam besar Front Pembela Islam (FPI), kemungkinan terjadi tersangka atas pelanggaran protokol kesehatan.

Habib Rizieq Shihab dinilai melanggar dikarenakan melibatkan ribuan orang dalam Kegiatan peletakan batu di Bogor pada beberapa hari lalu,

Kepolisian Jawa Barat pun melakukan penyelidikan atas kegiatan Habib Rizieq Shihab yang menyebabkan kerumunan massa disaat pandemi covid-19.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat Kombes Pol CH Patappoi kemungkinan ada potensi penetapan tersangka kepada Habib Rizieq.

“Penyidik akan melakukan penyidikan, akan memberitahu kejaksaan, dan berproses sampai nantinya kegiatan gelar penetapan tersangka,” ucap Patoppoi dilansir dari Antaranews pada kamis, 26 November 2020.

Patoppoi menjelaskan pihak penyelenggara kegiatan sampai pemilik lokasi Pondok Pesantren berpotensi kemungkinan akan tetapkan sebagai tersangka.

“Kemungkinan yang melakukan pidana, istilahnya potensi suspect (tersangka) itu penyelenggara, atau mungkin berdasarkan alat bukti mungkin bisa ke pemilik atau pendiri pondok Pesantren Alam Agrikultural Markaz Syariah DPP FPI,” ucapnya.

Berdasarkan penyelidikan Patappoin mengatakan bahwa pemilik pondok pesantren tersebut diduga adalah Habib Rizieq Shihab yang telah didirikan sejak 2012 lalu.

"Kita menduga bahwa pemilik pondok pesantren itu adalah Habib Rizieq Shihab, yang didirikan sejak tahun 2012. Upaya imbauan oleh Satgas Covid-19 tidak dipatuhi, jadi kegiatan tetap berlangsung," Tuturnya.

Meskipun begitu pondok pesantren masih diperbolehkan untuk beroperasi hanya saja berdasarkan aturan dari Bupati Bogor. Namun pondok pesantren tidak mengiziinkan untuk meneriman kunjungan selagi massa covid-19.

Kejadian kerumunan massa pada Jumat, 13 November 2020 lalu Bupati bogor sudah membuat aturan pembatasan dengan jumlah pengunjung maksimal 50 persen dari total kapasitas atau maksima sebanyak 150 orang.

Hal tersebut Penyidik telah memutuskanbahwa ada upaya menghalangi penangulangan wabah.

"Penyidik telah memutuskan bahwa telah ditemukan dugaan peristiwa Pidana, bahwa diduga ada upaya menghalang-halangi penanggulangan wabah, dan penyelenggara kekarantinaan kesehatan," Ungkap

Dalam kasus ini, pihak kepolisian menggunakan Pasal 14 Ayat 1 dan Ayat 2 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular, Pasal 93 Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan, dan Pasal 216 KUHPidana.